Ad Code

Responsive Advertisement

Menjejak Natuna Bersama Susur Nusantara, Menemukan Cerita di Ujung Utara Indonesia


Selama ini, ketika bicara tentang destinasi wisata Indonesia, mungkin nama-nama seperti Bali, Yogyakarta, atau Bandung menjadi tempat yang paling cepat muncul di kepala. Padahal, Indonesia jauh lebih luas dari sekadar destinasi yang sudah populer dan ramai dikunjungi wisatawan. Di balik hiruk-pikuk pariwisata mainstream, masih tersimpan begitu banyak tempat yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya, cita rasa kuliner, serta cerita tentang masyarakat yang belum banyak kita kenal. Salah satunya adalah Natuna, sebuah kepulauan di ujung utara Indonesia yang ternyata menyimpan pesona luar biasa dan membuat saya penasaran untuk datang, melihat, merasakan, lalu menceritakannya kembali.

Indonesia yang seperti inilah yang coba diperkenalkan melalui program Susur Nusantara, sebuah program yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI bekerja sama dengan komunitas @ExploreIndonesia. Program ini menggandeng belasan tim kreator konten dan influencer media sosial, mulai dari travel blogger hingga food blogger, untuk terjun langsung mengeksplorasi sejumlah destinasi di berbagai penjuru Indonesia. Ada Nias, Wakatobi, Toraja, Natuna, Dayak Iban, Luwuk, Sentani hingga Sombori.

Misinya sederhana, tetapi menurut saya sangat penting: memperkenalkan pariwisata berbasis budaya atau cultural tourism, keindahan alam, serta kuliner lokal dari daerah-daerah yang berada di luar jalur wisata mainstream. Semua pengalaman tersebut kemudian dibagikan melalui akun @susurnusantara dan kanal pariwisata nasional Kementerian Pariwisata, dengan harapan semakin banyak wisatawan nusantara yang tertarik bergerak dan menjelajahi Indonesia.

Dan dari sekian banyak destinasi tersebut, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari tim yang ditugaskan menyusuri Natuna.


Dari Jakarta, Transit di Batam, Menuju Natuna

Tiba di Bandara Raden Sadjad Batam

Perjalanan menuju Natuna tentu bukan perjalanan singkat. Kami berangkat dari daerah masing-masing dan bertemu terlebih dahulu di meeting point di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Batam untuk transit sebelum akhirnya terbang menuju Natuna.

Bagi saya, perjalanan menuju sebuah tempat yang belum pernah dikunjungi selalu menghadirkan rasa penasaran tersendiri. Apalagi Natuna berada jauh di utara Indonesia dan selama ini lebih sering saya kenal melalui berita atau peta Indonesia.

Kali ini saya tidak hanya ingin melihat Natuna dari layar. Saya ingin merasakan langsung suasananya, bertemu masyarakatnya, mencicipi kulinernya, dan tentu saja mencari cerita yang bisa dibawa pulang.


Hari Pertama: Menjejakkan Kaki di Ranai

Berpose di Alif Stone Park

Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami tiba di Bandara Raden Sadjad, Ranai. Begitu menginjakkan kaki di Natuna, petualangan pun dimulai. Kami terlebih dahulu menuju Trend Hotel Ranai untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Tujuan berikutnya adalah Rumah Makan Sisi Basisir untuk makan sore. Ada cerita menarik di tempat ini. Di tengah perjalanan jauh ke Natuna, kami justru menemukan sentuhan tanah Sunda.

Pemilik rumah makan tersebut ternyata berasal dari Tasikmalaya. Makanya, tidak heran kalau nama rumah makannya pun terasa cukup Sunda. Rasanya seperti menemukan sedikit "rumah" di tempat yang begitu jauh dari Jawa Barat. Setelah mengisi tenaga, perjalanan dilanjutkan menuju Alif Stone Park.

Tempat ini langsung mencuri perhatian dengan lanskap batu-batu besar yang berpadu dengan laut. Suasananya eksotis dan terasa berbeda dari destinasi pantai yang biasa saya temui.

Lucunya, pemilik Alif Stone Park ternyata juga berasal dari Lebak Bulus. Hehehe... lagi-lagi perjalanan di Natuna mempertemukan kami dengan orang-orang dari Pulau Jawa.

Dari Alif Stone Park, perjalanan berlanjut menuju Batu Sindu. Bongkahan batu-batu granit berukuran besar mengingatkan saya pada lanskap batu yang pernah saya lihat di Belitung.

Hari pertama kemudian kami tutup dengan mengunjungi Batu Rusia sebelum kembali ke hotel. Badan memang mulai terasa lelah, tetapi rasa penasaran terhadap Natuna justru semakin besar.


Hari Kedua: Menyusuri Laut dan Batu Granit Natuna

Pantai Batu Kasah

Pagi hari kedua dimulai dengan sarapan di hotel. Setelah itu, kami kembali berangkat untuk mengeksplorasi beberapa destinasi alam Natuna.

Tujuan pertama adalah Pantai Batu Kasah. Natuna seolah tidak pernah kehabisan cara untuk membuat saya terpukau. Pantai, laut, dan gugusan batu granit menjadi kombinasi yang begitu khas. Rasanya sulit untuk tidak mengeluarkan kamera ketika berada di tempat seperti ini.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Pulau Akar. Dari daratan, kami kembali menyusuri kawasan perairan Natuna dan menikmati bentang alam yang menjadi salah satu kekayaan utama wilayah ini.

Destinasi berikutnya adalah Selat Batu Lampa atau kawasan Teluk Lampa. Di sini saya semakin menyadari bahwa Natuna memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa.

Kami kemudian mengunjungi Museum Sri Serindit untuk mengenal sisi sejarah dan budaya Natuna. Setelah seharian menikmati lanskap alam, kunjungan ke museum menjadi pengingat bahwa perjalanan wisata seharusnya tidak hanya tentang berfoto di tempat indah, tetapi juga memahami cerita di balik sebuah daerah.

Malamnya, kami makan di RM Adelio. Menu yang paling menarik perhatian tentu saja sop ikan kuah kuning. Kuliner seperti ini menjadi bagian penting dari perjalanan karena dari makanan, kita bisa mengenal karakter sebuah daerah dengan cara yang sederhana. Duduk, makan, mencicipi, lalu bercerita.

Hari Ketiga: Bubur Ayam dan Keramahan Natuna

Bersama Pak Rodhial Huda

Tanpa terasa, perjalanan tiga hari dua malam hampir selesai. Sebelum meninggalkan Natuna, kami mendapat kesempatan istimewa untuk dijamu sarapan oleh Pak Rodhial Huda, salah satu tokoh Natuna yang kemudian menjadi Wakil Bupati Natuna. Kami disuguhi bubur ayam khas Natuna di rumah beliau.

Bagi saya, justru momen seperti inilah yang sering kali paling membekas dari sebuah perjalanan. Bukan hanya tempat wisata atau foto-foto yang bagus, tetapi ketika kita bisa duduk bersama warga lokal, menikmati makanan, dan merasakan keramahan mereka secara langsung.

Setelah sarapan, perjalanan menuju bandara masih menyisakan satu agenda: berburu oleh-oleh khas Natuna. Kami mampir ke tempat oleh-oleh untuk membeli beberapa buah tangan sebelum akhirnya menuju Bandara Raden Sadjad dan bersiap meninggalkan Natuna.

Pulang Membawa Cerita dari Ujung Utara Indonesia

Tiga hari dua malam ternyata terasa begitu singkat. Saya datang ke Natuna sebagai bagian dari perjalanan Susur Nusantara, dengan tugas mengeksplorasi dan menceritakan apa yang saya temukan. Namun, setelah perjalanan selesai, rasanya saya membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar konten.

Natuna mengajarkan bahwa Indonesia masih menyimpan begitu banyak cerita di tempat-tempat yang mungkin belum masuk dalam daftar perjalanan banyak orang.

Ada pantai dan laut yang indah, gugusan batu granit yang unik, museum yang menyimpan cerita, kuliner dengan cita rasa khas, dan yang paling penting, keramahan orang-orang yang kami temui sepanjang perjalanan.

Program Susur Nusantara menurut saya menjadi sebuah cara menarik untuk memperkenalkan Indonesia dari perspektif yang lebih dekat. Para kreator tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga merasakan dan kemudian menceritakan kembali pengalaman tersebut kepada masyarakat luas.

Dan bagi saya pribadi, Natuna bukan lagi sekadar nama yang ada di peta Indonesia. Natuna kini menjadi sebuah kenangan, sebuah perjalanan, dan sebuah cerita tentang betapa luas serta kayanya negeri ini. 

Saya datang untuk menyusuri Natuna, tetapi pulang dengan cerita tentang Indonesia yang jauh lebih luas dari apa yang selama ini saya bayangkan.***

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Penasaran banget sama pulau natuna ini. Pasti terasa beda dari pulau lain karena kan di ujung perbatasan

    BalasHapus
  2. Hai kang apa kabar? Duh sebagai orang yang masih dikit explore tempat di negara sendiri,rasanya gimana gitu baca tulisan ini ha ha ha. Part "Pulang Membawa Cerita dari Ujung Utara Indonesia" suka banget bacanya. Sehat buat tenaga explore kudu ya kang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai juga teh, long time no see. Ahh aku mah cuma baru beberapa bagian aja yg pernah dikunjungi. Mudah-mudahan semuanya diberikan kesehatan dan rejeki buat explore semua wilayah Indonesia

      Hapus
  3. Keren Bang susur Nusantara nya sampai ke Natuna. Banyak hal yang bisa dieksplorasi ya di sana, terlebih ada Museum Sri Serindit pula, jadinya dapat info soal wisatanya, dapat pula wawasan tentang sejarah dan budayanya juga

    BalasHapus
  4. Natuna memang selalu punya daya tarik yang megah ya, terutama hamparan batu granit raksasa dan keindahan lautnya yang masih alami. Menarik banget perjalanan Susur Nusantara dalam mengeksplorasi potensi bahari dan kehangatan masyarakat lokal di sana.

    BalasHapus
  5. Baru tahu kalau di Natuna juga ada batu-batu granit superbesar seperti di Belitung. Lanskapnya banyak pantai, ya. Dan ternyata yang tinggal di sana juga dari berbagai daerah di Indonesia, jadi sebetulnya untuk pertukaran budaya mungkin juga sudah berjalan dengan cara yang sederhana.

    BalasHapus
  6. Yang paling menarik dari eksplorasi wisata seperti ini, memang duduk bareng ngobrol sama warga lokal setempat. Memahami kondisi sosial budaya mereka. Dan itu pengalaman berharga yang bisa dibawa pulang, tentunya selain foto-foto estetik yang dijepret.

    BalasHapus
  7. Jadi penasaran, gimana cara daftar jadi bagian dari konten kreator atau blogger susur Nusantara? Kapan dibuka pendaftaran nya?

    Memang betul, Indonesia ini punya banyak sekali destinasi wisata hidden gem yang indah mempesona serta kaya akan kebudayaan. Tetapi, kalau pakai dana pribadi buat explore, seringkali terkendala biaya transportasi yang mahal. Apalagi kalau pakai pesawat.

    Nice sharing, indah betul momen explore di Natuna. Real pulang-pulang bawa banyak cerita berkesan yang siap dibagikan.

    BalasHapus
  8. Natuna memang punya daya tarik yang luar biasa. Menarik membaca pengalaman menjelajah Natuna lewat Susur Nusantara, karena jadi terasa bahwa perjalanan ke wilayah kepulauan bukan cuma soal menikmati pemandangan, tapi juga mengenal kehidupan dan kekayaan daerahnya. Indonesia memang luas banget!

    BalasHapus
  9. Duh jadi kepengen deh ikutan program Susur Nusantara gini. Btw ini dibiayain Kemenpar atau biaya sendiri ya kang? Keren bgt nih.

    Btw, Natuna ini emang tipe tempat yang bikin definisi “Indonesia itu luas” terasa nyata. Bukan cuma laut dan pulau cantik, tapi perjalanan ke sana sendiri sudah jadi cerita.

    Aku suka tulisan perjalanan seperti ini karena yang diceritakan bukan cuma tempat bagus buat foto, tapi juga suasana selama menjejak daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Ada rasa petualangannya. Bahkan sampe ketemu wakil bupati Natuna lagi.

    Dan Susur Nusantara ini kayaknya cocok buat yang emang ingin jalan-jalan sambil benar-benar mengenal Indonesia, bukan sekadar datang, foto, lalu pulang. Baca tulisan ini jadi kepikiran: ternyata masih banyak sudut Indonesia yang belum pernah aku lihat. 😄

    BalasHapus
  10. Seru banget ngikutin perjalanan ke Natuna lewat tulisan ini! Jadi ikut ngebayangin keindahan Alif Stone Park dan pesona pantai-pantainya. Senang juga ya bisa nemu sentuhan kekeluargaan dan silaturahmi langsung sama warga lokal, termasuk Pak Wakil Bupati.

    BalasHapus
  11. Lihat panorama Pulau Natuna tuh dari film Jelita Sejuba dan video klip lagu Menunggu Kamu by Anji ex-Drive. Pulaunya cantik sekali, batu-batu besarnya itu juga jadi pemandangan yang tak kalah menarik.

    BalasHapus
  12. MasyaAllah indahnya, sisi Indonesia yang harus banyak diketahui dunia. Pulaunya cantik. Program ini seharusnya dilanjutkan agar semakin banyak wilayah Indonesia dikenal dunia tapi perlu diimbangi juga transportasi untuk menuju daerah tersebut
    karena kadang tiket ke luar negeri lebih murah dibandingkan Indonesia sendiri

    BalasHapus
  13. Pengen banget bisa jalanjalan ke pulau Natuna, karena belum pernah ke sana dan hanya membaca artikelya. Menarik banget ya, panoramanya, jadi pengen pepotoan di batu-batu yang iconic itu

    BalasHapus
  14. Natuna ini sudah lama menjadi wishlist travelingku. Gugusan pulau-pulau, pantai dan lautnya indah banget untuk dijelajahi. Semoga suatu saat nanti bisa menjelajahi kabupaten Natuna juga nih

    BalasHapus