![]() |
| Ilustrasi Kamera Digital (Facebook/Jpg) |
Waktu itu hiburan paling sering ya bermain PlayStation di rental, nongkrong di warnet sambil Yahoo Messenger-an, main game poker, atau sekadar membuka Facebook yang saat itu sedang naik daun. Namun di antara semua keseruan masa itu, ada satu hobi yang diam-diam tumbuh dan bertahan sampai sekarang, yaitu fotografi menggunakan kamera digital.
Ketertarikan saya pada fotografi sebenarnya sangat sederhana. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi fotografer profesional atau memahami teori fotografi seperti rule of thirds, aperture, shutter speed, maupun komposisi cahaya. Yang saya tahu, setiap kali pergi ke suatu tempat, saya ingin membawa pulang lebih dari sekadar cerita.
Saya ingin membawa pulang kenangan yang bisa dilihat kembali bertahun-tahun kemudian. Karena itulah kamera digital menjadi pilihan. Harganya lebih terjangkau dibanding kamera DSLR yang saat itu masih terasa seperti barang mewah bagi saya, ukurannya ringkas, dan cara menggunakannya pun jauh lebih mudah dipahami oleh seorang pemula.
Perjalanan saya bersama kamera digital dimulai dengan Kodak EasyShare M23. Kamera mungil itu menjadi teman setia saat berkunjung ke tempat-tempat wisata alam. Saya senang memotret perbukitan, pepohonan, aliran sungai, hingga langit sore yang perlahan berubah warna. Tidak ada teknik khusus, semuanya hanya berdasarkan insting dan rasa kagum terhadap keindahan alam.
Salah satu hal yang saya sukai dari Kodak EasyShare M23 adalah menu pengoperasiannya yang sederhana serta bodinya yang ringan sehingga nyaman dibawa ke mana saja. Sayangnya, kebersamaan kami tidak berlangsung lama.
Sekitar setahun setelah saya memilikinya, seorang teman meminjam kamera tersebut untuk bepergian ke Semarang. Takdir berkata lain, kamera itu dijambret dan tidak pernah ditemukan lagi. Rasanya sedih, bukan hanya karena kehilangan sebuah barang, tetapi juga karena banyak kenangan yang ikut menghilang bersama kamera itu.
Sebagai bentuk tanggung jawab, teman saya menawarkan pengganti berupa Sony Cyber-shot W550 milik kakaknya. Meskipun bukan kamera baru, saya menerimanya dengan senang hati. Bahkan setelah digunakan, saya merasa kamera ini memiliki peningkatan yang cukup signifikan dibanding pendahulunya. Warna foto terlihat lebih hidup dan kualitas gambarnya pun lebih baik.
Hampir lima tahun lamanya Sony Cyber-shot W550 menemani setiap perjalanan saya. Kamera itu menjadi saksi berbagai petualangan kecil, mulai dari menjelajahi wisata alam, mengabadikan momen bersama keluarga, hingga sekadar menikmati suasana sore di sudut kota.
Bersama kamera inilah saya mulai belajar bahwa sebuah foto yang menarik bukan selalu soal teknik, melainkan tentang kemampuan menangkap momen yang mungkin tidak akan terulang lagi. Sayangnya, usia pemakaian akhirnya berbicara. Layar LCD kamera mulai rusak hingga tidak lagi bisa digunakan.
Hampir tiga tahun saya menjalani hobi fotografi tanpa kamera digital. Sesekali memang saya menggunakan kamera ponsel, tetapi rasanya berbeda. Ada sensasi yang hilang ketika tidak lagi menggenggam sebuah kamera, menekan tombol shutter, lalu mendengar bunyi khas yang selalu menghadirkan kepuasan tersendiri.
Kerinduan itulah yang akhirnya membuat saya memutuskan membeli Nikon Coolpix S6400 dalam kondisi bekas. Hingga hari ini, kamera tersebut masih setia menemani setiap kali saya bepergian, terutama saat mengunjungi destinasi wisata alam. Bagi saya, kamera ini bukan sekadar alat elektronik, melainkan teman perjalanan yang selalu membantu menyimpan cerita di setiap langkah.
Menariknya, perjalanan saya bersama kamera digital ternyata juga sejalan dengan perkembangan teknologi kamera itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa kamera digital pertama diciptakan pada tahun 1975 oleh insinyur Kodak bernama Steven Sasson. Kamera tersebut masih sangat sederhana dengan resolusi sekitar 0,01 megapiksel dan membutuhkan waktu lebih dari 20 detik untuk merekam satu gambar.
Kala itu, banyak orang belum percaya bahwa teknologi digital suatu hari akan menggantikan kamera film. Memasuki dekade 1990-an, berbagai produsen seperti Kodak, Sony, Canon, Nikon, Fujifilm, hingga Olympus mulai menghadirkan kamera digital untuk masyarakat umum.
![]() |
| Pemandangan Gunung Gede Hasil Jepretan Kodak EasyShare M23 Setelah Proses Editing (Dokumentasi Pribadi) |
Awal tahun 2000-an menjadi masa keemasan kamera digital saku karena menawarkan kemudahan memotret tanpa harus membeli dan mencuci film. Setelah itu, kamera DSLR berkembang pesat untuk kebutuhan fotografi profesional, sebelum akhirnya era kamera mirrorless hadir dengan teknologi autofokus berbasis kecerdasan buatan, kemampuan merekam video hingga resolusi 8K, serta konektivitas nirkabel yang semakin praktis.
Kini, kamera smartphone memang telah berkembang luar biasa. Hasil fotonya semakin tajam, fiturnya semakin lengkap, bahkan mampu menghasilkan gambar yang mengagumkan hanya dengan sekali sentuh. Meski demikian, kamera digital tetap memiliki tempat tersendiri di hati saya.
Ada pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh ponsel, terutama ketika memotret panorama alam dengan zoom optik, menggenggam kamera di tangan, lalu mencari sudut terbaik sebelum menekan tombol shutter. Bahkan belakangan ini, kamera digital lawas kembali diminati karena mampu menghasilkan karakter foto yang khas dan menghadirkan nuansa nostalgia.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa setiap kamera yang pernah saya miliki selalu meninggalkan cerita. Kodak EasyShare M23 mengajarkan saya bahwa kehilangan adalah bagian dari perjalanan. Sony Cyber-shot W550 menjadi teman yang menemani proses belajar menikmati fotografi tanpa harus menjadi seorang ahli. Sementara Nikon Coolpix S6400 hingga kini masih menjadi saksi setiap langkah kecil yang saya tempuh.
Saya mungkin hanyalah seorang penyuka fotografi amatir, tetapi saya percaya satu hal: foto terbaik bukanlah yang diambil dengan kamera paling mahal, melainkan foto yang mampu membawa kita kembali pada sebuah kenangan ketika melihatnya bertahun-tahun kemudian. Itulah alasan mengapa hingga hari ini saya masih menyelipkan kamera digital di dalam tas setiap kali bepergian. Sebab setiap perjalanan selalu memiliki cerita, dan setiap cerita selalu layak untuk diabadikan.***






17 Komentar
aku juga suka memotret tapi skillnya masih gitu2 doang. seru sebenarnya menekuni fotografi, ya. apalagi sekarang enggak harus dengan alat mahal
BalasHapusKalo ngejar hobi atau passion nanti akan ketemu pakem nya sendiri mba Farida. Dan bener, gak harus pake gear yang mahal juga bisa
HapusKak, kamu kalau beli kamera digital bekas itu di mana deh yang worthy? Dan kisaran harganya berapa kalau yang bekas?
BalasHapusAku biasanya hunting dulu di grup-grup di Facebook. Biasanya banyak yang BU dan harganya worth it kok
HapusSaya juga bukan fotografer tapi semenjak punya kamera DSLR second, saya jadi punya hobi baru. Hingga kini barangnya masih saya simpan. Lebih sering pakai HP sja sekrang kalau foto2.
BalasHapusBener mas klo sudah ada kamera, nanti akan ngulik sendiri semuanya. Mulai dari angel foto, komposisi sampe ngedit juga
HapusAku setuju banget kalau kamera bukan sekadar alat untuk mengambil gambar, tapi juga bisa menjadi cara menyimpan cerita. Ada momen-momen yang mungkin terlihat sederhana saat terjadi, tapi beberapa tahun kemudian justru jadi kenangan yang paling berharga. Seru juga ya punya hobi yang sekaligus bikin kita lebih peka melihat detail kecil di sekitar.
BalasHapusAhh makasih banyak mba Aie, memang cara setiap orang mengekspresikan sesuatu itu berbeda. Kadang aku juga nyari ide-ide foto yang jarang dipakai
HapusBulan lalu saat beberes rumah menemukan kembali dua kamera digital lama yang penuh kenangan, kayaknya menarik juga dibuat catatan memorinya begini, ya. Apalagi sejarah pembeliannya masing-masing juga cukup unik di perjalanan kehidupan saya, selalu ada cerita di baliknya. Sebelum mungkin kelak akhirnya harus dilepas karena rumah makin penuh, setidaknya diabadikan dulu kisahnya.
BalasHapusNahh bener mba, bisa jadi ide artikel juga tuh ceritanya. Pasti banyak hal yang menarik dibalik adanya kamera tersebut
HapusBener banget. Sensasi megang camera itu beda sama hasil jepretan handphone.
BalasHapusSony salah satu kamera yang sering di pakai sama sodara. Jadi, pas saya masih SMA, sodara yang kuliah di Malang tiap pulang pasti bawa kamera buat motret momen. Nah kalau unit kamera Nikon Coolpix S6400, temen kampus sempat punya, tahun 2016-2017 kami sering hunting foto sambil hiking.
Setiap kamera jadi punya cerita berkesan dan mengambil momen yang pas justru bikin nostalgia mendalam ya.
Wah mba lala punya cerita sama juga nih soal kamera digital hehehe
HapusApakah Mas Dede juga jualan foto di platform semacam shuttersrock gitu? Foto pemandangan Gunung Gede-nya cakeeeppp.
BalasHapusTernyata pengalaman berteman sama kameranya udah lama banget ya. Ingat banget di tahun segitu, kayaknya lagi ngetren punya kamera pocket deh. Habis itu, baru handycam. Soalnya kamera ponsel waktu itu masih suka blur atau berbintik gitu. Beda sama sekarang.
Jualan juga, meksipun baru 1 yang kejual selama ini hehehe. Betul mba, jaman-jaman itu kayaknya keren aja punya digicam dan bawa kemanapun hehehe
HapusWalaupun kamera ponsel sering digunakan tapi kalau jalan-jalan saya ambil gambar masih pakai kamera manual lho...
BalasHapusSenang aja karena zoom nya lumayan juga
Walaupun seharusnya sudah pensiun tapi kalau dirawat insyaallah kamera jadul masih bisa berfungsi
Pasti ada peruntukannya masing-masing teh hehehe. Biar ada cerita kalo abis jalan-jalan bawa kamera kan lumayan hehehe
HapusSepakat. Momen, adalah sisi termahal yang bisa kita abadikan di dalam foto, tanpa harus perlu menjadi ahli fotografi.
BalasHapusWalau ya tentu saja ilmu memotret juga seiring sejalan, agar momen yang diabadikan bisa tepat di ekspektasi ideal/terbaiknya.