Ad Code

Responsive Advertisement

Cafe Madtari dan Kenangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi dari Bandung


Bandung memang punya sejuta cerita. Kota yang dijuluki Kota Kembang ini selalu berhasil membuat orang rindu untuk kembali. Ada yang kangen dengan udara dinginnya, ada yang kangen suasana jalannya saat malam hari, dan ada juga yang diam-diam menyimpan kenangan tentang seseorang yang pernah ditemui di sudut kota ini. Tapi buat saya yang lahir dan besar di Bandung, ada satu hal yang selalu berhasil membawa ingatan kembali ke masa lalu: kulinernya.

Kalau sekarang mencari tempat nongkrong di Bandung semudah membuka media sosial, lain cerita dengan awal tahun 2000-an. Waktu itu belum ada coffee shop estetik di setiap tikungan jalan. Belum ada istilah work from cafe atau berburu spot Instagramable. Pilihan tempat nongkrong anak muda Bandung bisa dihitung dengan jari. Yang dicari pun sederhana: tempat yang nyaman, buka sampai malam, makanannya enak, harganya ramah di kantong, dan yang paling penting, bebas buat ngobrol berjam-jam.

Di masa itulah nama Cafe Madtari begitu akrab di telinga anak-anak Bandung. Rasanya hampir mustahil menjadi mahasiswa di Bandung tanpa pernah mendengar atau mampir ke Madtari. Saya masih ingat, dulu kalau ada teman yang bilang, “Engke peuting urang ka Madtari, nya?” (Nanti malam kita ke Madtari, ya?), rasanya seperti mendapat undangan untuk menghabiskan malam yang panjang. Di sana, waktu berjalan lebih lambat. Obrolan tentang tugas kuliah, sepak bola, musik, sampai urusan percintaan bercampur dengan aroma roti bakar dan segelas bandrek hangat.

Lokasi Madtari yang berada di kawasan Tamansari dan kini menempati Jalan Rangga Gading memang strategis. Di sekelilingnya berdiri berbagai kampus yang menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa, mulai dari kawasan ITB, Unisba, hingga kampus-kampus lainnya. Tak heran jika Madtari menjadi semacam ruang tamu bersama bagi anak-anak perantauan dan warga Bandung. Malam hari adalah waktu terbaik untuk melihat wajah asli Madtari: kursi-kursi yang hampir penuh, suara tawa yang saling bersahutan, dan pelayan yang sibuk mondar-mandir mengantarkan pesanan.

Menu Andalan Roti Bakar Keju dan Indomie Kornet (gmaps/denny torong)

Kalau bicara soal menu, rasanya tidak lengkap tanpa menyebut roti bakar keju dan Indomie keju legendarisnya. Jauh sebelum topping keju berlimpah menjadi tren seperti sekarang, Madtari sudah melakukannya terlebih dahulu. Bahkan, ada yang bilang kalau keju di Madtari bukan sekadar topping, melainkan identitas. Satu porsi roti bakar bisa dipenuhi parutan keju hingga nyaris tumpah dari piring. Begitu juga dengan Indomie-nya yang sukses membuat banyak orang penasaran. Ada yang jatuh cinta pada gigitan pertama, ada juga yang menganggapnya terlalu berlebihan. Tapi satu hal yang pasti, Madtari selalu berhasil membuat orang punya cerita.

Tak banyak yang tahu, Cafe Madtari ternyata bermula dari sebuah usaha sederhana. Sekitar akhir 1990-an hingga tahun 2000, Dani Madtari merantau ke Bandung dengan membawa mimpi besar. Berawal dari berjualan pisang bakar di sebuah tenda kaki lima di kawasan Dago, ia melihat peluang dari kebiasaan masyarakat Bandung yang gemar begadang dan berkumpul hingga larut malam. Cuaca Bandung yang dingin menjadi pasangan sempurna untuk sepiring pisang bakar, roti panggang, dan secangkir minuman hangat. Dari situlah nama Madtari mulai dikenal.

Seiring waktu, Madtari berkembang menjadi salah satu ikon wisata kuliner Bandung. Dari sebuah tenda sederhana, Madtari berhasil memperluas usahanya dan membuka beberapa cabang, termasuk di Dipati Ukur dan Jatinangor—dua kawasan yang juga identik dengan kehidupan mahasiswa. Meski zaman terus berubah dan tempat nongkrong baru bermunculan hampir setiap bulan, Madtari memilih bertahan dengan identitasnya sendiri. Tidak banyak yang berubah dari konsepnya: makanan sederhana, porsi yang melimpah, dan suasana yang apa adanya. Mungkin justru itulah yang membuatnya tetap dicintai.

Saya sering berpikir, bagaimana mungkin sebuah tempat makan bisa bertahan lebih dari dua dekade di kota yang begitu cepat berubah? Jawabannya mungkin bukan karena menunya semata. Madtari bertahan karena ia menyimpan kenangan banyak orang. Di sana, mungkin ada yang pertama kali menyatakan cinta. Ada yang mengerjakan skripsi sampai dini hari. Ada yang merayakan kelulusan, dan ada pula yang sekadar mencari tempat pulang setelah hari yang panjang.

Suasana Cafe Madtari Bandung (gmaps/Iqbal Bakhtiar)

Hari ini, ketika saya melewati kawasan Rangga Gading, Madtari masih berdiri. Mungkin kursinya sudah berganti, mungkin pelanggannya didominasi generasi yang berbeda, tetapi suasananya tetap terasa familiar. Sesekali saya melihat orang-orang yang usianya tak lagi muda datang bersama anak-anak mereka. Barangkali, dulu mereka juga pernah duduk di kursi yang sama sambil memesan roti bakar keju dan segelas susu hangat.

Bandung memang terus tumbuh. Gedung-gedung baru berdiri, jalanan semakin ramai, dan tempat nongkrong modern hadir silih berganti. Namun, di tengah semua perubahan itu, Cafe Madtari seolah menjadi pengingat bahwa ada hal-hal yang tak seharusnya berubah. Sebab, bagi sebagian orang, Madtari bukan sekadar tempat makan. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup, sepotong kenangan yang masih bisa dinikmati hangat-hangat bersama taburan keju yang melimpah.

Dan seperti halnya Bandung, Madtari selalu punya cara sederhana untuk membuat kita ingin kembali. Entah untuk menikmati sepiring Indomie keju, atau sekadar memastikan bahwa kenangan masa muda itu ternyata masih ada, menunggu di meja yang sama.***

Posting Komentar

28 Komentar

  1. ALhamdulillah madtari masih berdiri gagah dan ramai dengan pengunjung hingga saat ini dimana jika kita lihat industri f&B adalah industri yang kerasa karena setiap hari ada saja pesaing baru yang hadir...jika dia suda bisa bertahan hingga dua dekade sangat dimungkinkan dia akan selalu dicari oleh pelanggan setianya maupun pelanggan baru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupp betul mba, karena yang mereka jual bukan hanya makanan, tapi experience sama kenangan ditempat itu

      Hapus
  2. jadi ini kafe sejuta mahasiswa bandung, ya. coba ah ntar ngetes para mahasiswa bandung yang kutemui apakah sering ke sini. kalau aku ke situ, masih mirip mahasiswa enggak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, kapan-kapan klo ke Bandung coba deh mampir. Gak akan bisa ngebedain mana mahasiswa mana bukan kalo udah ngumpul disitu mah hehehe

      Hapus
  3. Sebagai pecinta keju aku kayaknya seperti menemukan surga terindah melihat roti bakar keju yang super melimpah itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe rekomendasi banget pokoknya roti keju nya mba

      Hapus
  4. Beuuuhhh roti bakar dengan keju melimpah dan menu indominya manteeebbb :D
    Roti bakarnya banyak dicari yaa.

    Iya yaaa, kalau masa remaja milenial dulu seneng gitu ke kafe2an model gitu. Kalau sekarang kafe identik dengan yang estetik, syahdu, ber-AC, dahulu kafe tu ya tempat2 kumpul2 remaja pada masanya hehe :D

    Keren banget bertahan 2 dekade. Pinter nih perhitungan owner-nya ngliat org2 suka begadang dibisnisin aja hehe.

    Aku jadi keinget rumah makan deket kampus aku dulu, sejak zaman ortu udah banyak dikunjungi, pas jd mahasiswa dibela2in beli nasgor patungan di sana, zaman udah berkeluarga pas udah ada duitnya masih suka ke sana buat bernostalgia :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang klo jiwa pebisnis tuh pasti jeli melihat peluang sekecil apapun termasuk kebiasaan nongkrong di Bandung

      Hapus
  5. Ah sumpah, di lingkungan pertemanan saya juga ini cafe jadi top of mind pas kuliah. Sampai sengaja bela-belain ke sini, walau pas datang selalu penuh. Roti bakar keju sama indomie kornet-nya memang jadi signature.

    Sudah lama juga nggak ke sini, next diagendakan ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kan?? Orang yang kuliahnya jauh dari sekitaran Dago/Tamansari bela-belain sengaja buat nongkrong disitu

      Hapus
  6. Wow, bisa bertahan selama itu tentu jadinya ikut jadi saksi perjalanan hidup para mahasiswa ya. Mempertahankan otentisitas, menjaga kenangan, sekaligus tetap jeli melihat peluang (ini dari awal ya bahkan, sampai mengikuti perkembangan zaman juga), mungkin jadi resepnya. Jadi penasaran deh, barangkali kapan-kapan ke Bandung bisa ke situ juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba Wanda. Next harus mampir klo ke Bandung hehehe

      Hapus
  7. Tahun 2000 an mah Bandung masih berani saya wara wiri sendiri. Kebetulan sekitaran tahun saat itu saya baru lulus sekolah
    Dari Tasikmalaya, ke Cianjur lewat Bandung bolak balik saya sendiri. Sering mampir di Rancaekek karena banyak teman dan saudara yg kerja di Kahatex
    Tetangga dan teman bermain di Gumuruh Gatsu juga masih sering saya mampiri. Belom ada Trans Studio Mall seperti sekarang. Dulu lahan yg dipakai TSM itu rawa dan kuburan. Sering nongkrong di sana, ngala jambu atau kersen
    Sekarang tempat nongkrong itu sudah hilang pastinya
    Nostalgia di Bandung memang banyak dan semua itu menyenangkan untuk kita kenang ya Kang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh curiga seangkatan atuh tahun 2000an baru lulus SMA mah hehehe

      Hapus
  8. Ada tempat-tempat yang sebenarnya sederhana, tapi karena menyimpan kenangan akhirnya jadi terasa istimewa. Aku suka bagaimana artikel ini nggak hanya membahas cafenya, tapi juga cerita yang ikut melekat di dalamnya. Rasanya seperti membaca potongan memori seseorang yang hangat. Semoga suatu hari bisa mampir juga dan membuat kenangan versiku sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak mba Aie. Kadang kaya lagi curhat ya kalo nulis soal flashback masa lalu tuh hehehe

      Hapus
  9. Madtari emang gak pernah gagal bikin kangen! Selain memiliki kuliner khasnya madtari. Tempatnya juga menjadi semacam nostalgia buat para mahasiswa terutama anak perantauan

    BalasHapus
  10. Serasa diajak nostalgia dengan deskripsi yang sangat jelas, bisa terbayangkan. Di era belum berjamur cafe ternyata Cafe Madtari di Bandung sudah amat hits. Duh kebayang roti bakar keju yang berlimpah dimakan pas malam hari, atau Indomie kuah pakai telor, ajib pisan.

    Bandung emang se-ngangenin itu ya. Bikin siapapun yang pernah kesana Pengan balik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pokoknya mah anak-anak Bandung angkatan 90-2000 an pasti sekali dalam seumur hidup pernah maen kesini teh

      Hapus
  11. Suatu tempat yang bisa bertahan lama di tengah derasnya perubahan tentunya pemiliknya mempunyai trik khusus yang membuat pelanggannya tetap merasa nyaman untuk datang kembali. Saat ini mungkin datang bersama teman dan sahabat tapi nanti datang bersama anak. dan datang kemabli bersama cucu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mab Dyah, kebayang udah punya anak cucu reunian sama temen kampus di Madtari ahhh udah pasti sangat memorable banget

      Hapus
  12. Walau sangat jauh dengan usia anak2 kuliah, rasa-rasanya robak keju Cafe Madtari wajib coba dah. Paling pas ya take away saja, karena sudah tidak sanggup juga berlama-lama nongkrong. Sudah sangat bukan masanya lagi 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gpp sekali-kali nongkrong buat lepas kangen sama suasananya mba. Sisanya kita bisa bungkus take away makanannya hehehe

      Hapus
  13. Jadi ingat dulu pertama kali ke Bandung setelah menang salah satu lomba blog yang hadiahnya tiket pesawat pergi pulang bebas dari mana dan ke mana aja. Saya yang dulu penasaran sama alun-alun (yang viral) dan dinginnya Bandung, mantap memilih pesawat tujuan sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih mantap banget mba Andy. Tentunya sangat berkesan yah bisa maen ke Bandung dan tiketnya juga hadiah lomba

      Hapus
  14. Aku punya kisah manis dengan cafe Madtari ini, kang..
    Jadi, awal-awal nikah tuh status suami masih mahasiswa kan yaa.. yang mengandalkan gaji penelitian dosen. Tapiii.. namanya ge newlywed, pingin sesekali makan di luar sambil menikmati udara malam. Waktu itu Madtari ini gedeee pissaan dan ada 2 lokasi, hadap-hadapan gituu kalo gasalah.

    Dan first impression tuuh... mashaAllah.. antriannya panjaaang, tapi pelayanannya supeerr cepet. Manalah keju itu sampek tumpe-tumpe kaan.. mau pesen roti, mie.. sama aja puas dan kenyangnya.

    Sampe sekarang, karena kami uda tinggal menjauh dari pusat kota, sesekali kalau kangen masih makan di Madtari. Meski vibesnya uda ga kaya dulu yaa.. sekarang assaa.. sepii euuii..
    Duluu.. Madtari makin malem makin paddeett..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh ternyata punya kenangan juga di Madtari geuning teh Lendy hehehe. Iya skrg mah sepi pisan, yaa sudah banyak saingan kafe-kafe baru teh...

      Hapus